Senin, 17 Juni 2013

Menghormati Kehidupan dan Melindungi Makhluk Berjiwa

Semua makhluk berjiwa memiliki sifat Buddha, jadi sebagai seorang praktisi ajaran Buddha, kita sudah semestinya menghormati segala jenis kehidupan, tidak boleh semaunya membunuh makhluk berjiwa dan tetap bertindak cermat untuk melindungi makhluk berjiwa di dalam kehidupan sehari-hari.

Bhiksu tua mengobati ular terluka

Dahulu pada Vihara Zi-yun yang terletak di Nanshan, Zhangzhou, Provinsi Fujian ada seorang Bhiksu tua bernama Miao-lian, biar pun usianya sudah 80 tahun lebih, namun tubuhnya masih sangat sehat, ia sering kali menjelaskan ajaran Buddha pada masyarakat setempat dengan metode yang sangat sederhana agar mudah dimengerti, ia membimbing mereka tentang kewelas asihan, serta kebenaran dibalik pantangan untuk membunuh dan hukum karma; baik lelaki atau wanita, tua atau muda, semuanya merasa percaya akan isi ceramahnya dari lubuk hati terdalam. Setiap tanggal 1 dan 15 penanggalan Imlek, Vihara Zi-yun selalu menyelenggarakan persamuan Dharma selama tiga hari untuk mendengarkan ceramah Bhiksu tua Miao-lian; setiap bulan pada beberapa hari ini, vihara akan dibanjiri oleh banyak umat, sebab semua orang ingin mendengarkan ceramah Bhiksu tua.

Bhiksu tua memiliki kebiasaan untuk mendaki gunung dan mengelilingi Tebing Zi-yun sendirian pada setiap pagi-pagi sekali, kebiasaan ini tidak pernah berhenti biar pun angin berhembus kencang, turun hujan, udara dingin atau berkabut. Suatu hari, ia menemukan seekor ular sakit di semak berjarak beberapa ratus kaki dari Tebing Ci-yun, kepala dan ekor ular tersebut tampak terluka, noda darah pada tubuhnya kotor dan bau, ular itu sedang dalam kondisi sekarat.

Bhiksu tua ini penuh dengan welas asih, ia memutuskan untuk menyembuhkan luka ular. Ia pun mencarikan beberapa macam tanaman obat, setelah dilumatkan lalu ditempelkan pada bagian kepala dan ekor ular, setelah dirawat sampai tuntas, baru Bhiksu tua kembali ke vihara. Hari berikutnya, Bhiksu tua pergi ke tempat tadi untuk mengunjungi ular tersebut, tetapi ular itu telah hilang.

Tamu tetap dalam persamuan Dharma

Setengah bulan kemudian ketika vihara menyelenggarakan persamuan Dharma dan Bhiksu tua sedang membabarkan Dharma, tiba-tiba terlihat seekor ular merayap masuk ke dalam vihara, walau para umat merasa takut, tapi tidak ada seorang pun yang bermaksud untuk melukainya. Bhiksu tua mengenalinya sebagai ular yang pernah ditolongnya setengah bulan lalu, ia pun berkata: “Tidak perlu takut, biarkan ia masuk!” Luka pada tubuh ular ini telah sembuh sepenuhnya, ia terus merayap ke hadapan Bhiksu tua, melingkarkan tubuhnya dengan patuh dan mendongakkan kepala untuk menatap kepada Bhiksu tua dengan pandangan berterima kasih.

Bhiksu tua melanjutkan ceramahnya dan ular ini tampaknya mengerti apa yang dikatakan; setelah persamuan Dharma berakhir, ular ini merayap ke luar vihara. Sejak itu, setiap kali vihara menyelenggarakan persamuan Dharma, ular ini akan datang pada tepat waktu untuk mendengarkan ceramah Bhiksu tua, setiap kali ular mendengar ceramah tentang “pantangan membunuh”, ia akan menampakkan sikap hormat dan seakan mendapatkan pemahaman.

Setelah beberapa tahun berlalu, ular ini sudah tumbuh sepanjang tiga kaki, semua anggota Sangha dan umat di vihara menamakan ular ini sebagai “ular Vihara Ci-yun”

Membalas budi

Pada suatu tahun, tiba-tiba muncul semacam penyakit menular di tempat tersebut, banyak orang meninggal dunia akibat mulut kering dan demam tinggi, tanpa satu pun obat yang efektif untuk mengobati. Semua orang tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa sedih dan ketakutan, serta menyaksikan banyak orang meninggal tanpa daya.

Bhiksu tua sering membawa serta para muridnya untuk pergi mengunjungi orang-orang yang sakit, namun tidak menemukan cara untuk menyembuhkan penyakit mereka. Suatu hari, Bhiksu tua menemukan ular yang pernah ditolongnya dulu menumpukkan banyak sekali tanaman obat di samping Tebing Ci-yun; saat ular melihat Bhiksu tua datang, ia menatap padanya seolah hendak mengatakan sesuatu. Bhiksu tua lalu memeriksa satu persatu tanaman obat itu dengan seksama dan menemukan semuanya memiliki kemampuan untuk menawarkan racun dan menurunkan demam panas; seketika timbul idenya, ia segera memberikan semua tanaman obat ini kepada orang-orang yang sakit, setelah dimasak dan diminum, mereka pun sembuh dari penyakit menular.

Setelah itu, Bhiksu tua pergi memetik tanaman obat yang sama, kemudian dilumatkan menjadi bubur, dikeringkan dan dibentuk menjadi bentuk tablet, itulah obat paling terkenal dari Zhangzhou, yaitu “Pian Zi Huang”, orang awam menyebutnya “Obat Bhiksu”, obat ini tidak tahu sudah menyelamatkan berapa banyak nyawa orang!

Melindungi kehidupan dengan welas asih akan mendapatkan jalinan keberkahan

Bhiksu tua Miao-lian mengasihi dan melindungi semua makhluk, tidak hanya peduli pada manusia, juga sangat mengasihi dan melindungi serangga, ikan, burung dan hewan lainnya. Jika pada waktu itu, ia tidak berbaik hati untuk menolong ular tersebut dan menggugah hatinya, bagaimana bisa ada obat “Pian Zi Huang” untuk menyelamatkan nyawa begitu banyak orang?

Anda sekalian, semua makhluk memiliki sifat Buddha, juga memiliki cinta kasih universal sebagaimana manusia, ular tersebut adalah contoh terbaik. Saya berharap pada semua orang agar selain bisa mengasihi umat manusia, juga bisa mengasihi semua makhluk berjiwa, bahkan serangga sekecil semut pun, kita harus menghormati kehidupan mereka. Melindungi kehidupan dengan kewelas asihan bisa mendatangkan jalinan keberkahan, sedangkan membunuh makhluk berjiwa akan sulit lari dari balasan karma buruk, jadi diharapkan pada semua orang agar lebih bersungguh hati lagi!

Dikutip dari Tabloid Tzu Chi edisi 223

Tidak ada komentar:

Posting Komentar