Senin, 17 Juni 2013

Air Mata Rahula

Sang Buddha bersabda: “Engkau harus tahu bahwa hati amarah adalah lebih parah daripada kobaran api.” Sering kali orang berperilaku buruk karena terbawa oleh amarah, begitu emosi sempat naik, biar saudara sendiri juga tidak dikenal lagi, sehingga merugikan diri sendiri dan orang lain. Jika anda berharap diri sendiri tidak marah biar menghadapi kondisi apa pun, selalu akrab dan harmonis dengan orang lain, maka anda harus memiliki hati yang lembut dan ramah, hati yang lembut dan ramah bersumber pada “kewelas asihan”.


Iba pada preman

Suatu hari, ketika murid Sang Buddha, Sariputra dan Rahula keluar untuk mengumpulkan sedekah, mereka bertemu dengan sekelompok preman dan dipermainkan oleh mereka, ada yang menaruh lumpur ke dalam mangkuk Sariputra, ada yang memukul Rahula dan membuat pipinya berdarah, namun mereka berdua tidak memperdulikan gangguan dari para preman itu dan langsung pergi dari tempat itu. Sariputra mengatakan kepada Rahula: “Engkau jangan marah, kita harus merasa iba pada semua makhluk dan membangkitkan hati welas asih kita, ini yang diajarkan oleh Sang Buddha kepada kita, dan ini hanya merupakan kesulitan tambahan dalam pembinaan diri kita.”


Rahula menjawab sambil meneteskan air mata: “Saya tidak marah, juga tidak menaruh dendam, saya sangat berterima kasih kepada Sang Buddha yang telah mengajariku tentang hati welas asih dan kemampuan untuk bersabar. Seumur hidupNya, Sang Buddha bekerja keras untuk menyadarkan semua makhluk, namun semua makhluk tetap saja tidak mau menurut, hati mereka penuh dengan kebencian, suka memamerkan keberanian palsu dan menindas yang lemah. Kekacauan dalam masyarakat dan bencana alam di dunia ini, semua disebabkan oleh kurangnya hati welas asih dalam diri semua makhluk. Aku meneteskan air mata karena merasa iba pada mereka!”

※ ※ ※ 

Jika semua orang bisa meniru Sariputra dan Rahula, dengan hati penuh welas asih memandang pada setiap orang dan setiap masalah dalam kehidupan sehari-hari, dengan sendirinya kita akan memiliki hati yang sangat lembut, ramah dan jernih, sehingga walau pun menemui kondisi tidak baik, tetap saja bisa bersabar, tidak menunjukkan ekpresi kemarahan dan tidak mengeluarkan kata-kata tidak baik; juga akan merasa iba pada orang-orang yang berbuat jahat, tanpa merasa benci sedikit pun.


Jika setiap orang dalam masyarakat bisa saling memperlakukan dengan hati penuh welas asih dan tindakan penuh kesabaran, bagaimana mungkin masih ada kekacauan dan malapetaka lagi? Pasti setiap orang akan hidup bahagia dan di mana-mana penuh dengan keberkahan!

Dikutip dari Majalah Bulanan Tzu Chi edisi 344

Tidak ada komentar:

Posting Komentar