Sang Buddha mempergunakan berbagai cara pengajaran untuk menyadarkan semua makhluk, juga kerap kali membimbing para murid dengan menceritakan hukum karma yang dialami pada masa kehidupan lampau, dalam “Jataka Sutra” ada sebuah kisah yang membawa pesan moral mendalam.
Gajah menyelamatkan orang miskin yang tersesat di jalan
Pada kalpa tiada terhingga dulu, ada satu hutan perawan yang di dalamnya tumbuh lebat dengan pepohonan, hutan ini merupakan tempat berdiamnya banyak hewan liar dan burung. Di antaranya ada seekor gajah betina yang sedang mengandung, tak lama kemudian lahirlah seekor gajah kecil yang tidak biasa, begitu lahir sudah tumbuh gigi dengan gading yang berwarna putih cemerlang dan bersinar putih, ketika belalainya digulung bagaikan gelang perak, pada dahinya bagaikan tumbuh sekuntum bunga teratai, gajah kecil ini sungguh menarik.
Seiring perjalanan waktu, gajah kecil perlahan-lahan tumbuh besar, ia sangat dihormati oleh semua hewan yang tinggal di hutan ini, baik itu singa yang garang, harimau, macan tutul, ular atau pun tikus hutan yang kecil, semuanya suka berkerumun di sekitar gajah yang baik hati ini.
Karena setiap harinya ada begitu banyak hewan dan burung yang berkerumun di sekitarnya, maka ia berpikir untuk sejenak bisa menikmati hidup yang lebih tenang, suatu hari dengan mengambil keuntungan dari gelapnya malam, ia pergi sendirian mencari sebuah tempat yang sangat terpencil dan tenang.
Ketika gajah ini baru membengkokkan dua kakinya untuk beristirahat yang baik, tiba-tiba terdengar suara tangisan, ia lalu mencari sumber suara itu, “Oh! Ternyata ada seorang manusia yang tersesat di pedalaman hutan.”
Orang ini sangat miskin, ia datang ke hutan untuk mencari barang berharga demi menafkahi hidup, karena hari semakin gelap, ia pun diliputi perasaan khawatir dan takut, setelah berjalan beberapa saat, akhirnya ia malah tersesat, sehingga tanpa tertahankan ia pun menangis dan berteriak keras-keras, dengan harapan ada orang mendengar suaranya dan bisa menyelamatkannya.
Ketika orang miskin tidak tahu lagi harus berbuat apa, ia melihat ada seekor gajah yang menghampirinya, seketika ia merasa sangat ketakutan dan berusaha melarikan diri. Melihat kepanikan orang miskin, gajah segera menghentikan langkahnya, melihat gajah berhenti, orang miskin juga merasa sedikit tenang dan berhenti berlari. Melihat orang miskin tidak berlari lagi, gajah perlahan-lahan mendekat padanya, begitu orang miskin melihat gajah menghampiri, orang miskin pun ketakutan dan kembali berlari, dan berhenti bila sang gajah berhenti, demikian berulang-ulang sampai suatu saat orang miskin berpikir: Gajah ini terlihat baik hati, sepertinya tidak bermaksud buruk padaku?
Ketika orang miskin sedang berpikir, gajah membengkokkan dua kaki depannya untuk menunjukkan maksud baiknya. Saat ini, orang miskin baru berani perlahan-lahan mendekati gajah, meski pun hatinya tetap sangat takut, namun juga merasakan adanya suatu kekuatan yang menenangkan hatinya.
Ia berjalan ke sisi gajah dan berkata: “Oh tuan gajah! Saya sangat takut, saya kehilangan arah dan tersesat, lagipula saya sudah kelaparan seharian.”
Gajah sepertinya mengerti apa perkataannya, ia lalu menggulung orang miskin dengan belalainya dan menaruhnya di punggung, kemudian membawanya pulang.
Di kediaman gajah ada banyak buah-buahan, setelah orang miskin melahap makanan sampai kenyang, gajah kembali menaruh orang miskin di punggung dan mengantarkannya keluar dari hutan. Duduk di atas punggung gajah, orang miskin mulai berpikir: “Ini adalah seekor gajah yang tidak biasa, lagipula barang berharga di hutan ini sangat banyak. Saya harus ingat setiap tanda jalan yang dilalui oleh gajah ini, agar nanti saya bisa datang lagi untuk mencari barang berharga.” Jadi ia dengan seksama memperhatikan setiap tempat yang dilalui oleh gajah.
Akhirnya, gajah berhasil membawanya keluar dari hutan, sesampainya di mulut hutan, gajah membengkokkan kedua kaki depannya agar orang miskin bisa turun. Begitu turun dari punggung gajah, sambil berjalan ia terus memalingkan wajah untuk mengingat ciri-ciri khas pada mulut masuk hutan serta seluruh jalur perjalanannya.
Hati manusia penuh keserakahan yang tidak pernah terpuaskan, membalas air susu dengan air tuba
Lalu suatu hari, sewaktu orang miskin pergi ke pasar, ia melihat ada seorang pengrajin yang sedang mengukir barang seni dari gading gajah, bisnisnya sangat ramai dan harga ukiran gadingnya juga cukup mahal.
Dia bertanya kepada pengrajin: “Apakah semua gading ini berasal dari gajah mati? Mau kah anda membeli gading dari gajah hidup?”
Pengrajin menjawab: “Tentu saja mau! Gading dari gajah hidup jauh lebih berharga lagi!” Orang miskin tergiur mendengarnya dan berpikir: “Saya harus mendapatkan barang berharga mulai dari gajah yang sebelumnya menolongku.” Ia lalu memulai perjalanan masuk ke dalam hutan.
Sesampainya dalam hutan, orang miskin mengikuti rute jalan yang pernah dilalui oleh gajah dan berhasil menemukan gajah yang pernah menyelamatkannya itu, ia berkata: “Saya sangat berterima kasih karena anda telah menyelamatkan nyawa saya, namun, saya tidak bisa mencari nafkah di luar, jadi saya berharap untuk mengambil beberapa barang berharga dari tubuh anda, agar tetap bisa menghidupi diri. Kedua gading anda bisa menolongku dan membuatku hidup nyaman, bolehkah anda melakukan ini untuk saya?” Gajah menganggukkan kepala dengan sikap ramah.
Orang miskin mengeluarkan gergajinya dan memotong kedua gading gajah, ia kemudian menjualnya ke pasar. Setelah beberapa hari, orang miskin datang kembali dan berkata pada gajah: “Setelah gading dijual, uangnya hanya cukup untuk membayar hutang, sekarang saya kembali tidak punya apa-apa dan tidak dapat menghidupi diri. Apakah anda boleh memberikan sisa gading di mulut anda kepada saya?” Gajah tetap saja menganggukkan kepala dengan ramah, sisa gading di dalam mulutnya juga digergaji dan dibawa pergi oleh orang miskin.
Namun, setelah jangka waktu tertentu, orang miskin datang lagi untuk memohon pada gajah: “Meski pun permintaanku agak tidak masuk akal, tapi jika anda tidak menolong saya, saya benar-benar tidak bisa melanjutkan hidup lagi. Bisa kah anda memberikan akar gading pada saya?” Gajah tetap saja menganggukkan kepala dengan ramah dan membiarkannya memotong dagingnya dengan pisau untuk menggali akar gading, meski pun berdarah-darah, tetapi gajah tetap berusaha untuk menahan sakit demi memenuhi permintaan orang miskin.
Gajah terus bersumbangsih dan berkorban tanpa pamrih, sedangkan orang miskin tetap serakah tanpa kenal puas, ia berulang kali bermohon pada gajah tanpa perasaan berterima kasih sedikit pun, setelah ia mencabut akar gading gajah, dengan perasaan penuh kemenangan bermaksud membawa pergi gading gajah. Ketika sampai pada setengah perjalanan pulang, tiba-tiba alam seakan marah, tanah longsor dan bumi merekah, api juga menjulur hebat, orang miskin tidak sempat menyelamatkan diri dan ikut terbakar api, akhirnya ia pun terkubur hidup-hidup oleh bebatuan yang jatuh.
Giat membina diri untuk melampaui tingkat manusia awam
Kadang kala manusia bahkan lebih rendah martabatnya daripada hewan, gajah ini adalah masa kehidupan sebelumnya dari Sang Buddha pada kalpa tiada terhingga dulu; meski pun terlahir sebagai hewan, namun masih juga tidak penah lupa untuk menolong orang.
Dari cerita ini, kita bisa tahu kalau pada kalpa tiada terhingga dulu, Sang Buddha telah berikrar untuk melangkah di jalan Bodhisattva, bahkan ketika ada seseorang yang sulit menghidupi diri, ia bersedia untuk mendedikasikan barang berharga ditubuhnya, dengan menahankan penderitaan fisik tanpa keluhan dan tanpa penyesalan sedikit pun. Karena itulah, makanya Sang Buddha dapat mencapai keBuddhaan.
Dalam hati setiap orang ada sifat Buddha, tapi kita masih berada pada “tingkatan manusia awam”, jika kita bisa bekerja keras dan giat membina diri untuk melampaui tingkatan manusia awam, kita juga bisa mencapai tingkatan Buddha! Semua orang harus bekerja keras dan giat membina diri, di kala membina diri, kita juga tidak boleh kurang kesabaran untuk menghadapi hinaan.
Bersumbangsih cinta kasih universal juga harus dilakukan langkah demi langkah dengan mempertahankan keuletan ini, jadi dalam keseharian, kita harus lebih bersungguh hati!
Dikutip dari Tabloid Tzu Chi edisi 261
Tidak ada komentar:
Posting Komentar